Drone LiDAR Untuk Perhitungan Volume Material Erupsi Gunung, ini Detailnya

 

kartabhumi – Coba sahabat bhumi bayangin jadi relawan pos pengamatan gunung semeru, lumajang, November 2025. Status Awas Level IV, abu vulkanik tebel bikin langit kuning kecoklatan, gemuruh guguran lava bikin tanah bergetar. Tim gabungan BNPB, PVMBG, & relawan Sky Volunteer harus gerak cepet, butuh tau dalam hitungan jam, bukan mingguan,  buat tahu  “Material erupsi di lereng berapa kubik? Bahaya jadi lahar dingin kalo hujan deras?”.  Akses ke puncak super terbatas, udara panas bikin mata perih, medan ekstrem. Survey manual pake tongkat ukur/total station jelas gak mungkin & gak aman. Di sinilah peran teknologi Drone LiDAR. Dengan terbang di atas awan panas, tim bisa dapetin data volume material dalam hitungan hari, bahkan jam. Yuk bedah gimana drone canggih ini hitung tumpukan material vulkanik pasca erupsi!

Mengapa Drone LiDAR Cocok Buat Area Erupsi Gunung?

Berikut ini beberapa alasan mengapa droen LiDAR cocok buat area erupsi gunung:

Tembus Asap & Abu

Abis erupsi, view pasti burem karena asap tebel dan debu. Drone biasa plus kamera hasilnya blur. Tapi LiDAR pake sinar laser, bukan cahaya matahari. Dia mantulin laser ke tanah dan ngukur waktu baliknya. Hasilnya tetap bisa motret bentuk tanah walau kondisi 0 kelihatan. 

Baca Juga Artikel :  Rekomendasi Drone Lidar di Bawah 100 Jutaan

Akurasi Buat Hitung Volume

Kalo pake manual atau foto biasa, sahabat bhumi cuma nebak kubikasi material. Buat mitigasi bencana, tebakan itu bahaya. Drone LiDAR hasilin Point Cloud dengan kepadatan super tinggi. Data LiDAR lebih presisi dibanding foto udara. 

Cepat Jangkau Area Luas

Waktu darurat gak kenal ampun. Sahabat bhumi gak punya waktu berminggu-minggu. Drone LiDAR model VTOL fixed-wing bisa terbang super cepet. Di Gunung Usu (Jepang), pake VTOL fixed wing 13 kali lebih cepet dari multirotor biasa. 

Aman Gak Perlu Deket-Deket

Gunung meletus itu zona mati karna gas beracun, suhu ekstrim, longsor. Survey manual di tengah kawah udah gak jaman. Dengan Drone LiDAR, tim bisa ngendaliin dari jarak aman bisa sampe kilometeran. 

Bedain Tanah vs Vegetasi

Gunung jarang gundul, biasanya ada semak atau pohon. Kamera biasa cuma motret pucuk daun. Padahal yang dibutuhin buat hitung volume material erupsi adalah bentuk tanah asli. LiDAR punya kemampuan Last Return yang lasernya nembus sela-sela daun, nyampe ke tanah, balik lagi. 

Material Erupsi yang Bisa Dihitung Pake Drone LiDAR

Berikut ini beberapa material erupsi yang bisa dihitung pake drone LiDAR:

Lava

Magma cair yang keluar ke permukaan dan bikin kubah. Di Merapi, drone LiDAR bisa ukur perubahan volume kubah secara presisi. Riset 2012-2014 nunjukin, lubang vent baru bisa pindahin volume 2.04 × 10⁴ m³ material.

Lahar Dingin

Campuran pasir, abu, batu sama air hujan yang mengalir kayak lumpur panas. Drone LiDAR hitung volume tumpukan material piroklastik di hulu. Hasilnya dipake BMKG-PVMBG buat nentuin zona rawan banjir bandang.

Aliran Piroklastik 

Campuran gas panas >1000°C, abu, dan batu dengan kecepatan 700 km/jam. Materialnya numpuk tebal dan gak stabil. Drone LiDAR ukur distribusi dan ketebalan endapannya. Makin tebal, makin gede potensi longsor atau lahar susulan.

Baca Juga Artikel :  Cara Menentukan Harga Pemetaan Lidar di Bekasi, Berikut Ini Langkah - Langkahnya

Tefra, Lapili & Abu Vulkanik

Material padat dari bom batu gede, lapili kerikil, sampe debu halus. Tiap material punya reflektivitas beda ke sinar LiDAR. Di Piton de la Fournaise, intensitas laser bisa bedain lapili (~4.30) sama lava pahoehoe (~7-23). Jadi bisa ukur tebal abu sekaligus bedain jenis material.

Material Longsoran & Erosi

Gak semua material numpuk, ada yang hilang karena erosi atau longsor. Pake DEM dari LiDAR, bisa keliatan area yang kehilangan material (volume negatif) vs area yang nambah tumpukan. Penting buat ngeliat stabilitas lereng kawah biar tau risiko longsor besar.

Tahapan Survei Drone LiDAR buat Hitung Volume Material Erupsi

Berikut ini beberapa tahapan survei Drone LiDAR buat hitung volume material erupsi:

Tahap Aktivitas Yang Dipersiapkan 
1 Perencanaan Misi • Zona aman terbang dan landing spot 
• Izin terbang di kawasan rawan bencana 
• Cek cuaca dan arah angin (terbang cuma 5-10 pagi!)
• Atur ketinggian terbang dan overlap jalur 
2 Akuisisi Data • Terbangin drone LiDAR di atas area terdampak 
• Sensor laser nembakin jutaan pulsa ke permukaan 
• Drone fixed-wing lebih efisien (13x lebih cepet dari multirotor buat area luas)
3 Pengolahan Point Cloud • Gabungin data dari semua jalur terbang 
• Filter noise (uap air, debu, burung) 
• Klasifikasiin mana titik tanah, vegetasi, atau material baru 
4 Klasifikasi & Filtering • Pisahkan ground (tanah asli) dari non-ground (pohon, semak) 
• Buat Digital Terrain Model (DTM) buat tanah kosong 
• Buat Digital Surface Model (DSM) buat permukaan + tumpukan material
5 Perhitungan Volume • Bandingin data “sebelum vs sesudah” erupsi (Surface-to-Surface) 
• Atau kalo gak ada data lama, pake metode Surface-to-Plane
• Hasilnya: selisih volume material yang numpuk (m³) 
Baca Juga Artikel :  Peran Drone Thermal-LiDAR Dalam Operasi SAR, ini Lengkapnya

Tantangan Penggunaan Drone LiDAR di Area Gunung Api

Berikut ini beberapa tantangan penggunaan drone LiDAR di area gunung api:

Cuaca Ekstrim

Angin kencang >7-10 m/s bikin drone oleng dan riskan jatuh. Hujan & kabut bikin laser kena refleksi palsu dari droplet air. Tanah basah juga bikin refleksi jelek. Tim cuma punya waktu terbang ideal jam 05.30-10.00 pagi.

Medan Ekstrim & Risiko Hilang

Biaya drone + sensor bisa sampai 240 juta-1,2 M. Medan gunung gak rata karna tebing terjal, jurang, kawah aktif. Sinyal GPS bisa hilang kalo <8 satelit. Pake VTOL Fixed-Wing lebih stabil tapi resiko loss tetep ada.

 Gangguan Sinyal

Gunung jadi zona mati sinyal. Medan tinggi & berbatu halangin gelombang radio ke remote. Solusinya pake sistem relay atau mode autonomous yang udah diprogram matang.

Asap & Low-Visibility

Asap vulkanik tebel & uap air bikin sinar laser buyar sebelum nyampe tanah. Debu & aerosol bikin sensor susah bedain pantulan tanah vs partikel udara. Hasilnya point cloud keropos. Tim harus nunggu cuaca bersih.

Butuh Tim Ahli

Drone doang gak cukup. Point cloud jutaan titik harus diolah pake software canggih. Biaya sewa surveyor mulai Rp5 jutaan/proyek. Human error sering terjadi karna lupa kalibrasi, setting rute kurang overlap, salah baca angin.

Kesimpulan Drone LiDAR untuk Perhitungan Volume Material Erupsi Gunung

Jadi sahabat bhumi, Drone LiDAR ini bukan sekadar gimmek teknologi mahal yang cuma keren di atas kertas. Di tengah darurat kayak erupsi semeru atau merapi, dia adalah ujung tombak yang kerja di balik layar buat nyelametin nyawa banyak orang. Mulai dari nembus asap tebel, hitung volume lava sampe presisi, sampe bantuin tim BNPB ambil keputusan cepet tanpa harus taruh nyawa di zona merah. Emang sih, tantangannya gak sedikit dari cuaca ekstrim, sinyal ilang, sampe butuh tim ahli yang jago tapi semua itu worth it dibanding resiko kehilangan nyawa di lapangan.